Jumat, 26 Agustus 2016

Ah....Gitu Aja Takut


credit to : www.newyorknewyork.com


Suatu kali di akhir pekan, saya dan seorang teman sengaja mengunjungi wahana bermain. Sengaja kami pilih tujuan wahan bermain ini karena kami sudah sama-sama jenuh dengan suasana pusat perbelanjaan, nonton bioskop maupun ngafe.

Kami pun mulai mencoba wahana bermain yang sedikit enteng menurut kami, yaitu bom-bom car, kicir-kicir, lalu biangala. Dari atas bianglala yang kami naiki, kami bisa melihat serunya wahana lainnya seperti roll coaster, hysteria, dan tornado. Icchhh….rasanya koq ngeri melihat orang-orang dijungkir balikan begitu. Teriakan, jeritan pun kami dengar.

Eng ing eng, saatnya kami mencoba wahana halilintar yang mirip dengan rollcoaster dengan ketinggian yang lebih rendah ketimbang wahana yang sama di Universal Studio Singapore atau Disneyland. Awalnya saya ngeri, saya takut dan terus terang nyali saya ciut apalagi mendengar teriakan orang-orang yang sedang menikmati wahana tersebut.

“Ayo…masak kalah salah anak kecil itu”, kata teman saya sambil mencibir dan menunjuk seorang anak berusia kira-kira 9 tahun yang antri di depan kami. “Berani…berani…berani….!” Kata saya dalam hati menyemangati diri sendiri. Dan….”wuuuzzzhhhh……….!!!! Yehai….saya berani meluncur dan menikmati sensasi roll coaster itu.

“Berani…ayo…berani…ayo…berani…!” Ratap saya dalam hati tatkala mencoba sebuah wahana baru. Karena wahana baru ini dalam ruangan, dari luar kami tidak tahu seperti apa wujudnya. Melihat antirannya yang cukup panjang, saya yakin wahana ini cukup menarik.

Dari depan wahana sudah terbaca beberapa petunjuk seperti, “Wanita Hamil, Orang berpenyakit jantung DILARANG bermain di wahana ini”. Nah lho, saya bukan kategori itu. Namun papan peringatan selanjutnya membuat nyali saya menciut, “WAHANA INI AKAN MELUNCUR DARI KETINGGIAN 4M. JANGAN MELEPASKAN PEGANGAN.” Alamak! Kenapa papan pengumuman itu terbaca setelah saya berada tengah antrian yang cukup panjang. Huuuuuu…..sudah kepalang tanggung! Jerit saya dalam hati.

Teman saya ternyata tahu ketakutan saya. Sambil menepuk bahu saya diapun berkata, “Gak apa-apa. Paling cuman sebentar. Masak mau keluar dari barisan. Gak malu sama anak-anak itu.” Uucchhh lagi-lagi saya dibandingin sama segerombolan murid-murid SD yang ketawa-ketawa gembira sepertinya mereka tak menghiraukan tiap peringatan sebelum masuk ke wahana tersebut.

“Sudah ya…jangan berpikir buat keluar wahana,” celutuk teman saya begitu kami sampai di dalam wahana. Dan wahana ini berada di ruang yang gelap dan suhu ruangan sangat dingin. Jiaaahhh saya makin ketakutan dengan jeritan orang-orang yang sedang menikmati wahana tersebut. Ini wahana apa’an sih jerit saya dalam hati.

Dan sampailah saya didepan wahana tersebut. Ternyata saya diajak naik sebuah perahu diatas rel seperti kereta berpenumpang 9 orang dalam gua yang dialirin air diberi efek kabut dan fek visual seolah-olah kita menyusuri lorong gua yang panjang dan dingin. Perahu masih berjalan pelan dan di tengah-tengah perjalanan perahu tiba-tiba meluncur berkelok tajam trusss……….naik….naik…naik…menanjak…dan BUUUMMMMM!!!!! Perahu yang kami tumpangi meluncur dari atas ke bawa dan kami semua yang berada di perahu seperti terbang dan terhempar dalam keadaan basah.  

Hidup ini seperti naik wahana-wahana tadi. Sering kali nyali kita ciut duluan melihat apa yang terjadi dengan orang-orang disekitar kita. Kita tidak berani melangkah dan mengambil keputusan. Kita lebih menghiraukan suara-suara disekitar kita. Yang perlu kita miliki keberani dan ketetapan hati untuk melangkah. Pastinya semua langkah dan keputusan kita sudah kita pertimbangkan baik buruknya. Dengan demikian kita sudah siap dengan segala konsekwensinya.

Bukankah kita memiliki sumber kehidupan yaitu sang pemberi hidup yang kuasanya jauh melebihi kita. Kita hanya bisa memasrahkan apa yang menjadi langkah dan keputusan kita. Let we do the best and let God do the rest.


Bukannya sensasi naik roll coaster atau halilintar hanya beberapa detik. Jika kita terhempas, ada pengaman dan tumpuan yang menyokong kita. Selamat melangkah. Selamat membuat keputusan. Jangan takut dengan jeritan-jeritan di luar sana. Siapa tahu itu jeritan sukacita bukan jeritan ketakutan. 

Selasa, 23 Agustus 2016

Hari Yang Aneh

image credit to: ontelpotorono.wordpress.com

Pernah nggak ngalami hari yang aneh?
Aneh maksudnya saya adalah nggak biasa. Contohnya cuaca yang lagi panas terik terik tiba-tiba hujan deras disertai angin atau sebaliknya.

Saya beberapa waktu yang lalu mengalaminya dan ini bukan pertama kalinya. Bukan kena terik matahari tiba-tiba diguyur hujan. Tapi saya bisa kesel, sedih, marah tapi sesaat kemudian saya bisa mensyukuri dan tersenyum hanya karena hal sepele.

Tadinya saya kesal dan marah karena apa yang seharusnya saya rencanakan untuk lakukan batal karena salah pengertian si big bosss. Akibatkan slot waktu yang seharusnya dipakai untuk mengerjakan sesuatu yang lebih penting harus dihabiskan untuk menjelaskan ha-hal yang ditanyakan si big boss. Mana si big boss pakek ngeyel karena gak ngerti-ngerti ditambah doi salah pula.

Ditengah-tengah kekesalan dan kemarahan saya tiba-tiba saya merasa jadi orang konyol dan tolol yang menghabiskan sesuatu untuk hal yang gak worthed. Seharusnya saya bisa berpikir positif, kalo si big boss emang ‘kurang’ ngerti, ‘kurang’ paham. Duh….buru-buru deh saya berteriak “God forgive me!!! I shouldn’t act like my boss. I shouldn’t act childish!!!”

Eh…tau nggak, setelahnya tiba-tiba Tuhan membuat saya tersenyum dengan candaan teman-teman di group whatsaap yang chating-annya dah berpuluh-puluh baris di smartphone saya. Fuihhh….sambil menarik nafas saya menenangkan diri.

This strange thing makes me think that we can’t refuse the bad/strange thing happens I our day but we can choose how we react for every single thing that happens toward us.

Syukur, saya masih bisa diberi sesuatu yang bikin saya tersenyum dan ketawa. Coba kalo saya terus larut dalam bad emotion sepanjang hari, yang rugi kan saya. Yang capek kan saya?

Then, hari yang aneh gak harus membuat kita ikut aneh. Justru hari yang aneh membuat kita belajar untuk menikmatinya dan berusaha memilih sikap apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya.


So, hopefully you can smile in the strange day ya guys!

Sabtu, 20 Agustus 2016

How I Moved On from Someone Who Stopped Loving Me

This article is similar with what happened in my live almost a year ago.  God allowed it comes to my live. I didn’t expect it before and never think it before.
If nowdays I find this article, it’s not accidentially. It’s like a mirror to see who and what me currently. He wants me to see who I’m and looking back where’s my soul is gone. 
Hi people who has an heartbreak and feel bitter and pain. Just take time to read it and think when you are standing. Hopefully it will help you to through the bitterness in your live. God bless you all.





It’s difficult to keep chasing someone who has chosen to ‘un-love’ you.
Time truly flies. To me, it feels like everything happened just yesterday, and not eight months ago. I still remember each and everything that took place. During that time, all I could do was cry. I couldn’t eat. I couldn’t sleep.
I kept losing weight. The dark circles underneath my eyes became a permanent feature. And instead of resting or trying to divert my mind, I would continue listening to the saddest songs and torturing myself till dawn. I would keep crying until I got tired, and I couldn’t possibly cry any longer. I felt completely lost and out-of-place all the time.
Because I had loved him too much, to a point where nothing was left of me. On some nights, I would continue walking without a specific destination in mind, until I would suddenly find myself in a park near my home.
This park held a lot of significance in my life. It was the place where we shared uncountable memories together, the place where it all started, the place where we used to discuss our hopes and dreams in life.
I would just sit there, aimlessly staring at the happy couple there, who looked like old portraits of us. I would just find a corner and keep seeing his face everywhere. Every single movie, every song, every meal, every place, and pretty much every simple thing made me think of him. 
I would stare at my phone every day, just waiting for his name to appear on the screen somehow, praying that he would call or just send a simple text. And as soon as the doorbell rang, my heart would start racing in the hope that he has come to see me.
I never really saw it coming. And no person that knew us ever thought it could happen. If only I had known, I would have done anything in my power to avoid it. The day he decided to leave was the day he chose to fall out of love with me, and to leave me feeling lifeless.
Denial, bargaining, depression, rage, and finally acceptance- I’ve been through all the stages. I used to deny the fact that he has left me, and that he has thrown away all the amazing memories we had gathered in our years together.
I chased him relentlessly. I kept calling on his number. I sent him several texts. And I even tried to get him to meet me on several occasions. I held on to any chance or ray of hope I could find, but it’s difficult to keep chasing someone who has chosen to ‘un-love’ you.
How could I even fight when I was the only one left fighting? How could I fight if his only wish was to just push me out of his life? I continued to bargain that this relationship would get better as long we showed some strength and patience, as long we worked towards helping each other, and as long as we loved each other. 
I had this belief that our love was strong enough to withstand all the struggles of life. But I was wrong.
Getting through this heartbreak was not an easy task. It was painful because I truly believed that I had found ‘The One’. I couldn’t face the reality that this person who has been such a huge part of my life is now gone- gone with all of our love and dreams.
Every update about his life felt like knife to my heart. A lot of people tried to show their support in this difficult time, but only a few special ones truly stood my by side through it all. It was hard to let go of the person I loved most, but it was even harder to know that he left me without a choice.
Letting go of someone doesn’t mean that you’ve lost the battle. It just means that you’re brave enough to face all the pain.

How did I manage to finally accept everything and move on? You have to feel the pain. You have to fully embrace it. Because at the end of the day, no one can really help you unless you decide to help yourself. I started trying out things that I had never done before. I tried to keep myself busy all the time, just to avoid thinking about the things that brought me pain. I started to write stories. I got enrolled in guitar lessons, something I had always wanted. I started going to the gym and I even travelled alone.
I needed to get back my soul, the soul I had lost in the process of loving him unconditionally. I needed to get refreshed, recharged, and restored. I started reconnecting with the people who had been distanced from my life. And in this journey to rediscover myself, I met some new people along the way. 

I remember questioning God on why He let my heart-break into these tiny little pieces. I prayed for some kind of guidance on what I was supposed to do next. I placed all my trust in Him to lead the way, to get me back to life. This is the time when I finally realized that I had only lost the man I loved, but I was still blessed enough to have my amazing family and friends by my side. I realized that sometimes, people only leave so you can find your own purpose.
Moving on is a complete learning process. Today, as I write about my experience, I have come to accept that it is only difficult in the start. But as the days go by, you start to feel lighter. You even become thankful for the changes it brings to your life. There is nothing wrong with loving someone, but you have to learn to love yourself before deciding to love someone else. If you have loved and lost, don’t be scared of asking for help and support from the ones who still love you. Don’t be scared of living again. And don’t be scared of finding new dreams. Forget the people and things that hurt you, but never let yourself forget the lessons that they left.
When I remember all of it today, it was indeed one of the most painful times of my life. But I’m still thankful that it happened. Because it truly changed me! It made me more mature. It made me stronger. And it made me wiser. Looking back on everything, I am no longer the weak and helpless girl that I used to be. I am someone who believes in herself. I am someone who can smile genuinely with all her heart. I may still be single, but I completely love every single minute of it.
If you are going through a similar experience in life, take this hardship as an opportunity to discover yourself, to make yourself better than you were before, and to be whole again.

Article and image credit to : http://www.relrules.com/moved-from-someone-who-didnt-love-me

Jumat, 12 Agustus 2016

It has to wrap up right away

source: akuinginhijau.org

Seorang teman pernah berujar bahwa ‘hidup tanpa masalah adalah hidup yang tak layak dihidupi’. Maksud teman saya tadi bisa diartikan bahwa nggak ada hidup tanpa masalah atau masalah selalu ada dalam kehidupan manusia. Ya, masalah selalu saja menghiasai hidup kita. Ada yang susah. Ada yang gampang. Ada yang sederhana. Ada juga yang rumit.

Masalah yang diijinkan singgah di hidup kita saya pahami sebagai latihan agar ‘otot-otot’ kedewasan, hikmat, pemikiran, dan perasaan lentur dan peka. Cara kita menghadapi dan menyelesaikan masalah akan memperlihatkan siapa kita dan akan menampakkan seperti apa karakter kita. Dengan kata lain, masalah akan membentuk karakter kita.

Jika hari ini kita gagal menghadapi dan menyelesaikan masalah, jangan takut dan menghindar atau bahkan lari dalam masalah. Masalah akan terus mengikuti kita. Kita tidak terbebas darinya.

Jika kita saat ini bermasalah dengan relasi kita dengan orang lain, coba untuk menyelesaikan dengan menempatkan kita dan orang lain sejajar. Kita tidak bisa pergi dan lari. Jika kita memang mempunyai kesalahan, belajarlah untuk memaafkan bahkan mengampuni. Jika masalah kita berhubungan dengan sesuatu yang kita ambil, ulurkanlah tangan untuk mengembalikan apa yang tidak menjadi hak kita.

Belajarlah untuk menghadapi dan menyelesaikan dengan cara yang manusiawi karena kita adalah manusia yang dibekali akal, pikiran dan perasaan. Saya dulu pernah menjadi manusia yang kerdil yang tidak cukup berani menghadapi masalah dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan. Pada akhirnya sayalah yang rugi.


Kita bukan seorang anak kecil yang terburu-buru membuka sebuah kotak yang telah dibungkus rapi dan setelah tau isinya kita tidak mampu lagi mengembalikan bungkus seperti sediakala. Every problem is like a wrapping box. After we opened it, it has to be wrapped up right away. 

Kamis, 04 Agustus 2016

Maunya Enak

source: gracethrufaith.com
Suatu kali saya dan beberapa teman yang dulu pernah bekerja di lembaga yang sama bertemu. Istilahnya reuni'an. Di setiap reuni pasti banyak cerita yang kami tuturkan satu dengan yang lain. Dan tidak bisa dipungkiri saling mmebandingkan-bandingkan tempat kerja yang sekarang dan yang dulu jadi salah satu bahan pembicaraan kami. Ya selalu ada yang lebih dan kurang, mulai dari gaji, sistem tunjangan perjalanan dinas yang lazim kami sebut perdiem, suasana kantor beserta teman-teman, si bos, sistem manajemen kantor sampai mudah sulitnya kami mencari tempat makan siang.


Ya…selalu ada ada perbedaan di setiap kehidupan kita. Tidak ada yang sama. Selalu ada yang kurang dan lebih, selalu ada yang negatif dan positif. Cara kita menyikapi segala kekurangan atau hal-hal negatif yang sering tidak kita sukai adalah hal yang sangat penting. Jika sikap kita selalu memunculkan atau hanya memandang hal-hal yang kurang, hal-hal yang negatif maka mata kita tidak bisa melihat hal yang lebih. Jika hati kita hanya diajak merasakan hal-hal yang negatif, maka ia tidak terbiasa merasakan hal-hal yang positif.


Bukankan hidup tidak selalu menyediakan apa yang kita inginkan? Bukankah hidup tidak selalu diisi hal-hal yang lebih, yang positif. Kurang dan lebih, negatif dan positif adalah sepasang keadaan yang saling melengkapi. Kita manusia yang sulit memahaminya. Begitu egoisnya kita jika hanya ingin yang lebih, yang enak, yang menyenangkan tanpa mau merasakan yang kurang, yang tidak enak, yang tidak menyenangkan. Kekurangan dan kenegatifan akan bisa dirasakan dan dinikmati dengan rasa syukur dan keyakinan bahwa kelebihan dan kepositifan akan menggantikannya.

Rabu, 03 Agustus 2016

Memang Nggak Mudah

Saat saya seumuran 9 tahun, saya paling suka digendong bapak saya dipundaknya. Bagi seorang anak yang tingginya kurang 150cm, berada dipundak bapak berasa tinggi sekali! Saya senang sekali karena saya bisa menyentuh langit-langit rumah, pohon yang dahannya tinggi, bahkan memetik buah mangga yang sedang matang di halaman rumah. Saking gembiranya, sering saya melonjak kegirangan tanpa sedikitpun kuatir bapak saya akan jatuh atau roboh karena saya tahu bapak saya akan memengang saya dan melindungi saya. Saya percaya bahwa bapak saya mampu menjaga saya walupun saya tahu bapak tidak sekekar atlit binaraga. Saya percaya bapak saya mampu menopang tubuh saya walaupun bapak tidak sekuat atlit angkat besi dengan tubuh yang besar.
 
source: www.wajibbaca.com
PERCAYA…hal yang ternyata tidak mudah. Apalagi saat yang kita pandang hanya masalah, kesulitan, pergumulan di hidup kita tanpa penyelesaian yang kunjung datang. Berkali-kali kita berlutut memohonkan pertolongan kepada Tuhan untuk menemkan jawabannya tapi tak juga tiba. Kekuatiran, ketakutan akhirnya mengisi pikiran dan hati kita.

Ya…percaya memang tak mudah. Percaya butuh hati dan iman untuk menyerahkan semua yang tak mampu kita lakukan kepada yang lebih kuasa di hidup kita. Iman bisa ditumbuhkan dari mengingat pertolongan-pertolongan yang kita dapatkan dimasa-massa yang lalu dari sang pemberi hidup. Jika kita bisa melalui semua yang telah diijinkan terjadi dimasa yang lalu, maka kita akan dimampukan melaluinya saat ini.

source: YesHeIs
Sepertinya saya juga harus mengingat saat saya digendong bapak saya. Saya percaya bapak saya akan menjaga dan melindungi saya supaya saya tidak jatuh. Jika bapak saya akan menjaga dan melindungi saya, maka Tuhan yang menciptakan saya yang lebih tahu tentang saya akan melakukan apa yang terbaik buat saya.


PERCAYA, memang tak mudah tapi worthed to do that in our live event we can’t see anything in front.  


Jumat, 22 Juli 2016

Happening = Kekinian = Keren; bener nggak sih?

source: stevivor.com
Siapa yang nggak tau games yang sedang happening sekarang, POKEMON GO! Dari anak-anak sampai orang dewasa (baca tua) tidak perduli laki-laki atau perempuan. Dari seorang pejabat sampai penjual bubur ayam keliling, tau permainan ini dan memainkannya. Semua orang mudah memainkan permainan ini. Mereka hanya bermodal telepon pintar dengan pulsa cukup untuk terhubung ke layanan internet dan GPRS. Padahal aplikasi untuk memainkannya belum resmi di rilis di Indonesia.

Masyarakat Indonesia termasuk orang yang selalu update atau tidak mau ketinggalan. Istilah kerennya kekinian. Semua dilakukan agar tidak dicap manusia kuno, jadul, ketinggalan jaman. Jadi tak heran jika melihat antrian mengular di loket-loket penjualan tiket film box office di masa tayang perdana. Jangan bingung jika kita kesulitan mencari tempat parkir saat ingin mengunjungi mall yang baru saja memulai operasionalnya walaupun banyak sarana dalam mall belum berfungsi secara normal. Juga jangan kagum jika tempat wisata tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya karena membludaknya pengunjung karena tempat tersebut baru dan menjadi trend. Semua dilakukan karena kita tak ingin ketinggalan jaman. Maka selanjutnya timeline akun media sosial kita dipenuhi update’an status dan foto-foto hasil kekinian kita itu.

Memang tidak ada yang salah. Di jaman teknologi semakin canggih, informasi tidak dapat dibendung lagi. Setiap saat kita dihinggapi informasi apapun yang membangkitkan rasa ingin tahu kita akan segala hal yang baru. Mulai dari makanan, baju, film, tempat nongkrong, mall sampai artis siapa yang akan kawin lagi dan siapa yang sedang mengurus perceraiannya. Rasanya kalo tidak update kita menjadi orang yang ketinggalan jaman dan ditingkalkan.

Namun apakah semua yang kekinian itu akan menjadikan kita pribadi yang keren? Apakah semua kekinian yang kita lakukan bermanfaat? Semua hal menjadi baik jika membawa manfaat dan kebaikan bagi kita dan orang-orang di sekitar kita. Jika kekinian tersebut hanya membuat kita menjadi boros itu tentunya tidak membawa manfaat bagi kita. Jika untuk melakukannya kita menjadi orang yang semakin egois. Maka kekinian itu justru bukan hal yang harus diikuti bukan?

Saya pernah berada dikondisi tersebut. Rasanya kesel kalo kehabisan tiket film box office yang sedang jadi bahan pembicaraan oleh teman-teman. Saya menjadi orang yang egois karena nyela antrian untuk pesan suatu menu di resto cepat saji yang saya tau ada menu baru yang sedang happening. Saya menjadi gampang mengeluarkan uang untuk belanja sepatu agar penampilan saya tidak dibilang ketinggalan jaman oleh teman-teman saya. Saya mati-matian meminta ijin bos saya untuk cuti supaya bisa mengunjungi objek wisata yang sedang trend foto-fotonya di media sosial. Padahal saat itu kerjaan kantor sedang banyak-banyaknya. Saya jadi latah dan ikut-ikutan apa yang orang lain lakukan. Padahal jika saya tidak melakukannya saya tidak rugi. Jadi saya berpikir, “why I should do like people do? Don’t do something when you only see that people also does the same thing like us.”

Mungkin hal-hal di atas adalah hal-hal umum yang kita jumpai dalam hidup kita. Ada hal-hal yang lebih khusus, lebih dalam yang harus kita lakukan bukan kerena ikut-ikutan tapi butuh pertimbangan lebih matang. Tidak sekedar pengen atau pengen tau. Bukan karena kita nggak ingin disebut ketinggalan jaman. Jangan hanya kita nggak pengen disebut perawan/perjaka tua jadi kita menghalalkan cara untuk bisa menikah. Jangan hanya karena kita pengen update mobil terbaru kita jadi korupsi uang perusahaan. Jadiah diri kita sendiri dengan apa yang ada pada kita. Too mainstream will make our real us blur. Be proud to be you with whatever you are.


Lalu, apakah saya POKEMON GO gamer? Nggak tuh!
Saya nggak mainan POKEMON GO.
Gak takut dibilang ketinggalan jaman? Gak juga.
Untungnya saya bukan menggemar games terutama, games elektronik.
Coba aja cek telephone pintar saya. Pissssss... * _ *