Selasa, 06 Desember 2016

Finally d'Day ;)

This writing actually is forbidden to be posted here. I break the rule in this blog bcoz the only possible way is it and I’m sure someday you will look in to this blog #fingercrossed ^ _ ^

image credit @bestwishesltd


Hei…before I write many thing here, let me say congratulation to you!!!


Dec 3rd 2016 was your big day and wishing you all the best. You have chosen your path to complete your life. Enjoy the new path with your new package; wife and daughter who came from Pekanbaru ;)

Selasa, 22 November 2016

Belum Tentu Rumput Tetangga Lebih Hijau

photo credit: www.positivityblog.com

Memandang sesuatu yang dimiliki orang lain selalu lebih bagus ketimbang milik sendiri. Jadi gak salah dunk, kalau pepatah mengatakan, “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri.” Padahal kita gak tau rumput tetangga itu benar-benar asli atau imitasi alias palsu. Bisa jadi rumput tetangga tampak lebih hijau karena si tetangga lebih rajin merawat rumputnya ketimbang kita. Yup, sering sekali kita mengeluh atau komplain akan kehidupan kita karena kita lebih sering menilai kehidupan orang lain lebih daripada hidup kita. Lebih kaya, lebih pintar, lebih mudah, lebih bahagia, lebih diberkati. Pokoknya semua lebih ketimbang hidup kita sendiri.

Sayapun begitu, memandang kehidupan teman-teman saya lebih menyenangkan daripada hidup saya. Enak ya si A sudah punya rumah. Si B yang sudah merit dengan pria yang ganteng dan juga kaya. Si C yang sudah mempunyai anak-anak yang lucu dan pintar. Si D yang hidup bahagia karena anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Lha saya….mulai deh…mengasihani diri sendiri. Lha saya, apa enaknya? Belum merit, usia sudah tua, dan bla…bla… yang lainnya.

Psssttt…eh, ternyata hidup saya yang saya keluhkan atau yang sering saya komplain itu, di-iri-in sama teman-teman saya. Bahkan saudara-saudara saya sendiri. “Enak ya kamu, bisa jalan kemana aja tanpa harus ijin suami, ijin anak,” begitu seloroh teman saya. “Enak ya kamu kalau jalan-jalan gak mikirin beli oleh-oleh buat keluarga, buat suami, buat anak, buat mertua de-el-el.” Cetus teman yang lain. “Senengnya ya kamu, bisa beli baju, sepatu, tas, make-up semau kamu. Coba kalau aku. Kalau bulan ini sudah beli baju, maka belun berikutnya harus beli’in baju suami atau sepatu anak. Belum lagi ngurus ini itu.” Kata saudara panjang lebar. “Enaknya ya kamu kalau pulang malam gal ada yang negur. Coba aku, bisa-bisa tiap 5 menit ditelponin suami. Sudah sampai mana, sudah dimana? Duh pusing….!” Suara teman saya bercerita. Mendengr itu saya hanya senyum-senyum sambil mengeryitkan dahit. “Kamu gak tau galau dan bapernya hidup single.” Nah….nahh…mulai deh banding-bandingin lagi. Kalau sudah begitu, gak akan ada habisnya.

Kalau kita hanya bisa mengeluh, komplain terus kapan kita bisa bersyukuri apa yang sudah kita terima dalam hidup kita. Mengeluh dan komplain hanya akan membuat hati dan pikiran kita dipenuhi hal-hal negatif dan tentunya itu menjadi kebiasaan yang buruk buat kita dan orang-orang sekitar kita. Bosen kan dengerin orang mengeluh dan komplain? Bete kan, dengerin omongan negatif dari orang didekat kita.

There’s no perfect life. Everyone has burden, own problem and they struggle with themselves. Seorang ibu tidak akan memberikan dua piring makan siang jika si anak hanya mampu makan satu piring. Demikian juga kita, kita akan menerima setiap “porsi” kehidupan kita sesuai dengan kemampuan kita.

Saat ini rasanya saya diajarin untuk tidak komplain dengan apa yang ada dalam “piring” hidup saya. Yup, berhenti komplain akan membuat kita lebih mensyukuri hidup dan membuat dahi kita berkurang kerutnya. Bukankah everything happens for a purpose. Bisa jadi saya hanya mampun makan 3 suap nasi dengan sepotong tempe goreng. Kenapa saya harus maksa makan steak? Then, why don’t we enjoy everything which comes to our life with the grateful heart.


On celebrating the day of my life.

Rabu, 12 Oktober 2016

Kehilangan Momen

hoto credit: wwww.http://kameradslr.info
Saya dulu suka memotret dengan menggunakan kamera DLSR yang membawanya tidak mudah. Perlu tas khusus agar kamera tidak rusak. Untuk perjalanan jauh agak susah memang, karena barang bawaan menjadi lebih banyak. Yang semula bisa membawa 1 tas ransel dan 1 tas selempang untuk perjalanan 5-7 hari, dengan membawa DLSR, saya harus menambah 1 buah tas selempang lagi.

Sejak setahun lalu saya meninggalkan DLSR saya dan berganti dengan kamera pocket yang lebih kecil bentuknya dan tentu saja tidak secanggih kamera DLSR saya sebelumnya. Kadang dalam perjalanan saya, saya hanya cukup membawa smartphone. Bagi saya itu sudah cukup memotret segala yang ingin saya simpan dalam file-file foto digital.

Dalam suatu perjalanan, saya begitu malasnya memotret karena saya tidak mau kehilangan momen keindahan alam yang cepat berganti dihadapan saya. Saya hanya menikmati dengan mata asli saya J tidak sekedar membidik tapi juga menikmati. Saya bilang menikmati, karena dengan tidak memotret menggunakan perangkat foto saya lebih fokus menikmati setiap detik keindahan alam disekitar saya. Menyimpanya dalam otak saya. Anehnya justru sampai saat ini saya masih ingat bagaiman awan putih bergulung melintas gugusan kepulauan berbukti yang sedang gersang saat itu. Saya masih terpaku saat perahu yang saya naiki melintasi birunya air laut dengan cuaca yang cukup terik. Saya masih takjub kala mentari bergerak pelan namun pasti tenggelam diufuk barat dan memancarkan sinar keemasan yang sungguh indah.

Sekarang saya tahu, dengan DLSR saya sibuk memotret objek sampai saya lupa menikmati keindahan objek yang saya potret. Memang saya bisa menikmatinya namun tidak asli. Saya menikmatinya dalam bentik file digital yang mati.

Kadang hidup itu seperti kita memotret objek. Kita sibuk menyeting perangkat kamera kita, memfokuskan bidikan kita. Berkali-kali jepret agar menghasilkan gambar yang fokus dan bagus. Namun kita lupa menikmati objek yang kita potret.

Dalam hidup kita sibuk dengan hal-hal yang seharusnya mampu kita nikmati. Karena kita sibuk dengan hal-hal gak penting, kita jadi lupa menikmati. Seperti hidup dimasa single. Banyak orang begitu risau karena gak nikah-nikah. Sibuk merhatiin omongan orang-orang disekitar kita, sehingga kita lupa bahwa ada banyak hal di masa single yang bisa kita lakukan dan nikmati.

Contoh lain, kita pusing mikirin kenapa gaji kita gak naik-naik. Kita gak dipromosiin sama perusahaan atau bos tempat kita bekerja sehingga kita lupa meningkatkan kualitas kerja kita. Atau ada juga bingung lalu mengeluh karena usahanya sepi. Pelanggan gak dateng-dateng. Jelas aja pelanggan gak dateng-dateng karena kerjaan kita hanya mengeluh, ngomel-ngomel. Coba kita bikin promosi yang lebih dasyat, lebih keren, lebih bombatis. Ngasih paket-paket promo yang bikin orang lain tertarik sama jualan kita.

Kesibukan untuk urusan gak penting itu ibarat kita sibuk ngatur setingan kamera DLRS dan kita kehilangan momen yang indah dihadapan kita. Padahal kita sudah punya alat yang lebih alami yang dikasih Tuhan kepada kita. Mata, otak, perasaan yang bisa merekam semua kejadian itu. Dan hebatnya lagi otak kita itu seperti gulungan roll film yang bisa diputer kapanpun kita mau.

So, jangan mau diribetin sama hal-hal printilan yang membuat kita kehilangan momen, kehilangan kesempatan yang indah yang bisa nikmati. Jadi pergipun gak harus bawa DLSR kan?

Jumat, 26 Agustus 2016

Ah....Gitu Aja Takut


credit to : www.newyorknewyork.com


Suatu kali di akhir pekan, saya dan seorang teman sengaja mengunjungi wahana bermain. Sengaja kami pilih tujuan wahan bermain ini karena kami sudah sama-sama jenuh dengan suasana pusat perbelanjaan, nonton bioskop maupun ngafe.

Kami pun mulai mencoba wahana bermain yang sedikit enteng menurut kami, yaitu bom-bom car, kicir-kicir, lalu biangala. Dari atas bianglala yang kami naiki, kami bisa melihat serunya wahana lainnya seperti roll coaster, hysteria, dan tornado. Icchhh….rasanya koq ngeri melihat orang-orang dijungkir balikan begitu. Teriakan, jeritan pun kami dengar.

Eng ing eng, saatnya kami mencoba wahana halilintar yang mirip dengan rollcoaster dengan ketinggian yang lebih rendah ketimbang wahana yang sama di Universal Studio Singapore atau Disneyland. Awalnya saya ngeri, saya takut dan terus terang nyali saya ciut apalagi mendengar teriakan orang-orang yang sedang menikmati wahana tersebut.

“Ayo…masak kalah salah anak kecil itu”, kata teman saya sambil mencibir dan menunjuk seorang anak berusia kira-kira 9 tahun yang antri di depan kami. “Berani…berani…berani….!” Kata saya dalam hati menyemangati diri sendiri. Dan….”wuuuzzzhhhh……….!!!! Yehai….saya berani meluncur dan menikmati sensasi roll coaster itu.

“Berani…ayo…berani…ayo…berani…!” Ratap saya dalam hati tatkala mencoba sebuah wahana baru. Karena wahana baru ini dalam ruangan, dari luar kami tidak tahu seperti apa wujudnya. Melihat antirannya yang cukup panjang, saya yakin wahana ini cukup menarik.

Dari depan wahana sudah terbaca beberapa petunjuk seperti, “Wanita Hamil, Orang berpenyakit jantung DILARANG bermain di wahana ini”. Nah lho, saya bukan kategori itu. Namun papan peringatan selanjutnya membuat nyali saya menciut, “WAHANA INI AKAN MELUNCUR DARI KETINGGIAN 4M. JANGAN MELEPASKAN PEGANGAN.” Alamak! Kenapa papan pengumuman itu terbaca setelah saya berada tengah antrian yang cukup panjang. Huuuuuu…..sudah kepalang tanggung! Jerit saya dalam hati.

Teman saya ternyata tahu ketakutan saya. Sambil menepuk bahu saya diapun berkata, “Gak apa-apa. Paling cuman sebentar. Masak mau keluar dari barisan. Gak malu sama anak-anak itu.” Uucchhh lagi-lagi saya dibandingin sama segerombolan murid-murid SD yang ketawa-ketawa gembira sepertinya mereka tak menghiraukan tiap peringatan sebelum masuk ke wahana tersebut.

“Sudah ya…jangan berpikir buat keluar wahana,” celutuk teman saya begitu kami sampai di dalam wahana. Dan wahana ini berada di ruang yang gelap dan suhu ruangan sangat dingin. Jiaaahhh saya makin ketakutan dengan jeritan orang-orang yang sedang menikmati wahana tersebut. Ini wahana apa’an sih jerit saya dalam hati.

Dan sampailah saya didepan wahana tersebut. Ternyata saya diajak naik sebuah perahu diatas rel seperti kereta berpenumpang 9 orang dalam gua yang dialirin air diberi efek kabut dan fek visual seolah-olah kita menyusuri lorong gua yang panjang dan dingin. Perahu masih berjalan pelan dan di tengah-tengah perjalanan perahu tiba-tiba meluncur berkelok tajam trusss……….naik….naik…naik…menanjak…dan BUUUMMMMM!!!!! Perahu yang kami tumpangi meluncur dari atas ke bawa dan kami semua yang berada di perahu seperti terbang dan terhempar dalam keadaan basah.  

Hidup ini seperti naik wahana-wahana tadi. Sering kali nyali kita ciut duluan melihat apa yang terjadi dengan orang-orang disekitar kita. Kita tidak berani melangkah dan mengambil keputusan. Kita lebih menghiraukan suara-suara disekitar kita. Yang perlu kita miliki keberani dan ketetapan hati untuk melangkah. Pastinya semua langkah dan keputusan kita sudah kita pertimbangkan baik buruknya. Dengan demikian kita sudah siap dengan segala konsekwensinya.

Bukankah kita memiliki sumber kehidupan yaitu sang pemberi hidup yang kuasanya jauh melebihi kita. Kita hanya bisa memasrahkan apa yang menjadi langkah dan keputusan kita. Let we do the best and let God do the rest.


Bukannya sensasi naik roll coaster atau halilintar hanya beberapa detik. Jika kita terhempas, ada pengaman dan tumpuan yang menyokong kita. Selamat melangkah. Selamat membuat keputusan. Jangan takut dengan jeritan-jeritan di luar sana. Siapa tahu itu jeritan sukacita bukan jeritan ketakutan. 

Selasa, 23 Agustus 2016

Hari Yang Aneh

image credit to: ontelpotorono.wordpress.com

Pernah nggak ngalami hari yang aneh?
Aneh maksudnya saya adalah nggak biasa. Contohnya cuaca yang lagi panas terik terik tiba-tiba hujan deras disertai angin atau sebaliknya.

Saya beberapa waktu yang lalu mengalaminya dan ini bukan pertama kalinya. Bukan kena terik matahari tiba-tiba diguyur hujan. Tapi saya bisa kesel, sedih, marah tapi sesaat kemudian saya bisa mensyukuri dan tersenyum hanya karena hal sepele.

Tadinya saya kesal dan marah karena apa yang seharusnya saya rencanakan untuk lakukan batal karena salah pengertian si big bosss. Akibatkan slot waktu yang seharusnya dipakai untuk mengerjakan sesuatu yang lebih penting harus dihabiskan untuk menjelaskan ha-hal yang ditanyakan si big boss. Mana si big boss pakek ngeyel karena gak ngerti-ngerti ditambah doi salah pula.

Ditengah-tengah kekesalan dan kemarahan saya tiba-tiba saya merasa jadi orang konyol dan tolol yang menghabiskan sesuatu untuk hal yang gak worthed. Seharusnya saya bisa berpikir positif, kalo si big boss emang ‘kurang’ ngerti, ‘kurang’ paham. Duh….buru-buru deh saya berteriak “God forgive me!!! I shouldn’t act like my boss. I shouldn’t act childish!!!”

Eh…tau nggak, setelahnya tiba-tiba Tuhan membuat saya tersenyum dengan candaan teman-teman di group whatsaap yang chating-annya dah berpuluh-puluh baris di smartphone saya. Fuihhh….sambil menarik nafas saya menenangkan diri.

This strange thing makes me think that we can’t refuse the bad/strange thing happens I our day but we can choose how we react for every single thing that happens toward us.

Syukur, saya masih bisa diberi sesuatu yang bikin saya tersenyum dan ketawa. Coba kalo saya terus larut dalam bad emotion sepanjang hari, yang rugi kan saya. Yang capek kan saya?

Then, hari yang aneh gak harus membuat kita ikut aneh. Justru hari yang aneh membuat kita belajar untuk menikmatinya dan berusaha memilih sikap apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya.


So, hopefully you can smile in the strange day ya guys!

Sabtu, 20 Agustus 2016

How I Moved On from Someone Who Stopped Loving Me

This article is similar with what happened in my live almost a year ago.  God allowed it comes to my live. I didn’t expect it before and never think it before.
If nowdays I find this article, it’s not accidentially. It’s like a mirror to see who and what me currently. He wants me to see who I’m and looking back where’s my soul is gone. 
Hi people who has an heartbreak and feel bitter and pain. Just take time to read it and think when you are standing. Hopefully it will help you to through the bitterness in your live. God bless you all.





It’s difficult to keep chasing someone who has chosen to ‘un-love’ you.
Time truly flies. To me, it feels like everything happened just yesterday, and not eight months ago. I still remember each and everything that took place. During that time, all I could do was cry. I couldn’t eat. I couldn’t sleep.
I kept losing weight. The dark circles underneath my eyes became a permanent feature. And instead of resting or trying to divert my mind, I would continue listening to the saddest songs and torturing myself till dawn. I would keep crying until I got tired, and I couldn’t possibly cry any longer. I felt completely lost and out-of-place all the time.
Because I had loved him too much, to a point where nothing was left of me. On some nights, I would continue walking without a specific destination in mind, until I would suddenly find myself in a park near my home.
This park held a lot of significance in my life. It was the place where we shared uncountable memories together, the place where it all started, the place where we used to discuss our hopes and dreams in life.
I would just sit there, aimlessly staring at the happy couple there, who looked like old portraits of us. I would just find a corner and keep seeing his face everywhere. Every single movie, every song, every meal, every place, and pretty much every simple thing made me think of him. 
I would stare at my phone every day, just waiting for his name to appear on the screen somehow, praying that he would call or just send a simple text. And as soon as the doorbell rang, my heart would start racing in the hope that he has come to see me.
I never really saw it coming. And no person that knew us ever thought it could happen. If only I had known, I would have done anything in my power to avoid it. The day he decided to leave was the day he chose to fall out of love with me, and to leave me feeling lifeless.
Denial, bargaining, depression, rage, and finally acceptance- I’ve been through all the stages. I used to deny the fact that he has left me, and that he has thrown away all the amazing memories we had gathered in our years together.
I chased him relentlessly. I kept calling on his number. I sent him several texts. And I even tried to get him to meet me on several occasions. I held on to any chance or ray of hope I could find, but it’s difficult to keep chasing someone who has chosen to ‘un-love’ you.
How could I even fight when I was the only one left fighting? How could I fight if his only wish was to just push me out of his life? I continued to bargain that this relationship would get better as long we showed some strength and patience, as long we worked towards helping each other, and as long as we loved each other. 
I had this belief that our love was strong enough to withstand all the struggles of life. But I was wrong.
Getting through this heartbreak was not an easy task. It was painful because I truly believed that I had found ‘The One’. I couldn’t face the reality that this person who has been such a huge part of my life is now gone- gone with all of our love and dreams.
Every update about his life felt like knife to my heart. A lot of people tried to show their support in this difficult time, but only a few special ones truly stood my by side through it all. It was hard to let go of the person I loved most, but it was even harder to know that he left me without a choice.
Letting go of someone doesn’t mean that you’ve lost the battle. It just means that you’re brave enough to face all the pain.

How did I manage to finally accept everything and move on? You have to feel the pain. You have to fully embrace it. Because at the end of the day, no one can really help you unless you decide to help yourself. I started trying out things that I had never done before. I tried to keep myself busy all the time, just to avoid thinking about the things that brought me pain. I started to write stories. I got enrolled in guitar lessons, something I had always wanted. I started going to the gym and I even travelled alone.
I needed to get back my soul, the soul I had lost in the process of loving him unconditionally. I needed to get refreshed, recharged, and restored. I started reconnecting with the people who had been distanced from my life. And in this journey to rediscover myself, I met some new people along the way. 

I remember questioning God on why He let my heart-break into these tiny little pieces. I prayed for some kind of guidance on what I was supposed to do next. I placed all my trust in Him to lead the way, to get me back to life. This is the time when I finally realized that I had only lost the man I loved, but I was still blessed enough to have my amazing family and friends by my side. I realized that sometimes, people only leave so you can find your own purpose.
Moving on is a complete learning process. Today, as I write about my experience, I have come to accept that it is only difficult in the start. But as the days go by, you start to feel lighter. You even become thankful for the changes it brings to your life. There is nothing wrong with loving someone, but you have to learn to love yourself before deciding to love someone else. If you have loved and lost, don’t be scared of asking for help and support from the ones who still love you. Don’t be scared of living again. And don’t be scared of finding new dreams. Forget the people and things that hurt you, but never let yourself forget the lessons that they left.
When I remember all of it today, it was indeed one of the most painful times of my life. But I’m still thankful that it happened. Because it truly changed me! It made me more mature. It made me stronger. And it made me wiser. Looking back on everything, I am no longer the weak and helpless girl that I used to be. I am someone who believes in herself. I am someone who can smile genuinely with all her heart. I may still be single, but I completely love every single minute of it.
If you are going through a similar experience in life, take this hardship as an opportunity to discover yourself, to make yourself better than you were before, and to be whole again.

Article and image credit to : http://www.relrules.com/moved-from-someone-who-didnt-love-me

Jumat, 12 Agustus 2016

It has to wrap up right away

source: akuinginhijau.org

Seorang teman pernah berujar bahwa ‘hidup tanpa masalah adalah hidup yang tak layak dihidupi’. Maksud teman saya tadi bisa diartikan bahwa nggak ada hidup tanpa masalah atau masalah selalu ada dalam kehidupan manusia. Ya, masalah selalu saja menghiasai hidup kita. Ada yang susah. Ada yang gampang. Ada yang sederhana. Ada juga yang rumit.

Masalah yang diijinkan singgah di hidup kita saya pahami sebagai latihan agar ‘otot-otot’ kedewasan, hikmat, pemikiran, dan perasaan lentur dan peka. Cara kita menghadapi dan menyelesaikan masalah akan memperlihatkan siapa kita dan akan menampakkan seperti apa karakter kita. Dengan kata lain, masalah akan membentuk karakter kita.

Jika hari ini kita gagal menghadapi dan menyelesaikan masalah, jangan takut dan menghindar atau bahkan lari dalam masalah. Masalah akan terus mengikuti kita. Kita tidak terbebas darinya.

Jika kita saat ini bermasalah dengan relasi kita dengan orang lain, coba untuk menyelesaikan dengan menempatkan kita dan orang lain sejajar. Kita tidak bisa pergi dan lari. Jika kita memang mempunyai kesalahan, belajarlah untuk memaafkan bahkan mengampuni. Jika masalah kita berhubungan dengan sesuatu yang kita ambil, ulurkanlah tangan untuk mengembalikan apa yang tidak menjadi hak kita.

Belajarlah untuk menghadapi dan menyelesaikan dengan cara yang manusiawi karena kita adalah manusia yang dibekali akal, pikiran dan perasaan. Saya dulu pernah menjadi manusia yang kerdil yang tidak cukup berani menghadapi masalah dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan. Pada akhirnya sayalah yang rugi.


Kita bukan seorang anak kecil yang terburu-buru membuka sebuah kotak yang telah dibungkus rapi dan setelah tau isinya kita tidak mampu lagi mengembalikan bungkus seperti sediakala. Every problem is like a wrapping box. After we opened it, it has to be wrapped up right away.