Jumat, 10 Juni 2016

Kesetiaan..Gak Cuman Itu Lho !

Dalam sebuah renungan harian yang saya baca, beberapa kalimat yang sangat menohok saya berkata seperti ini, “Setia memang lebih sulit daripada meninggalkan seseorang/organisasi ketika sudah tidak nyaman lagi. Kesetiaan butuh pengertian, kerelaan untuk memaafkan, komitmen bahkan pengorbanan. Tetapi kesetiaan memberikan rasa aman, kestabilan dalam hubungan, kesempatan bertumbuh bersama, dan kepercayaan.” Ternyata arti kesetiaan yang selama ini ada dalam memahaman saya masih dangkal. Kesetiaan bukan sekedar komitmen untuk tetap tinggal apapun yang terjadi. Kesetiaan bukan sekedar kerelaa berkorban dan memaafkan. Namun kesetiaan lebih jauh lagi; memberikan rasa aman, kestabilan dalam hubungan, kesempatan bertumbuh bersama, dan kepercayaan. (kali ini saya cetak tebal untuk menekankan artinya).

Jika melihat ke belakang, ternyata saya jauh dari sosok yang mampu berlaku setia. Memang saya mampu tinggal dalam hubungan dengan seseorang apapun yang terjadi. Malah saya sering ngeyel tidak mau ‘pergi’ walau sudah diusir dan ditinggalkan (duh… koq jadi curhat). Ternyata dalam menjalin hubungan saya gagal memberikan rasa aman, menjaga kestabilan hubungan, kesempatan bertumbuh bersama dan menjaga kepercayaan. Bisa dikatakan bahwa hubungan saya dan pasangan adalah hubungan yang buruk. Kami berucap saling menyayangi tapi kami sering bertengkar. Kami berucap saling menghormati tetapi kami gagal memberikan rasa aman satu dengan yang lain. Kami mengakui saling menghargai tapi masih gagal mempertahankan kepercayaan yang diberikan satu dengan yang lain.



Ternyata kesetiaan punya arti dalam dan luas artinya. Tidak saja  bertahan dalam sebuah hubungan apapun yang terjadi namun lebih dari itu. Kesetiaan menuntut kita melakukan lebih dari itu. Tidak saja dalam sebuah hubungan dengan pasangan atau berelasi tetapi juga kesetiaan dalam melakukan pekerjaan dan apapun itu yang Tuhan berikan kepada setiap kita.




Merenungkan kembali arti kesetiaan memang berat. Apalagi dalam berelasi kita selalu diperhadapkan dengan perbedaan. Friksi selalu hadir setiap kesempatan yang bisa menimbulkan emosi. Emosi yang tak terkontrol justru memperburuk keadaan. Jika saat ini baik saya maupun anda gagal berlaku setia, maka belum terlambat untuk berusaha. Mintalah roh Tuhan untuk bekerja dalam diri kita memberikan kemampuan untuk kita berlaku setia. Terlebih di dalam Tuhan kita sudah melihat dan merasakan teladaan kesetiaan dari Tuhan. Setia sampai mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. KesetiaanNya memberikan kita rasa aman saat menghadapi pencobaan dan pergumulan. KesetiaanNya memberikan kestabilan saat iman kita goyah. Dalam Dia kita diberi kesempatan untuk bertumbuh makin serupa denganNya. KesetiaanNya membuat kita percaya kepadaNya dan Dia percaya kepada kita anak-anakNya. Jika saat ini Dia telah memberikan kita anugerah lewat relasi dengan orang lain, maka kita dituntut membangun kesetiaan. Seperti Dia yang berhasil membangun kesetiaanNya terhadap kita agar kita tetap bisa hidup didalam kasih Tuhan.



Tidak ada komentar: